ASBABUL WURUD HADITS PDF

Pendahuluan Para ahli ilmu pengetahuan dalam hal ini sains memiliki pandangan bahwa setiap peristiwa atau kejadian ada penyebabnya. Hal itu wajar, karena asumsi dasar sains adalah tidak ada kejadian tanpa sebab. Akan tetapi bila manusia bisa lebih membuka worldview serta mengikuti conscience-nya, yaitu dengan menerima kebenaran atas pijakan iman, maka hukum sebab-akibat bukanlah patokan dasar dalam menjelaskan suatu kejadian. Tapi jauh di atas itu ada hukum Allah yang berlaku atas ciptaan-Nya. Disiplin ilmu ini, merupakan jalan yang menguatkan kepada pemahaman hadits.

Author:Grozragore Moogushakar
Country:Bosnia & Herzegovina
Language:English (Spanish)
Genre:Spiritual
Published (Last):10 July 2018
Pages:270
PDF File Size:14.5 Mb
ePub File Size:18.65 Mb
ISBN:715-5-53790-491-7
Downloads:29553
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kazralmaran



Dalam setiap hadis ada yang mempunyai asbab al-wurud ada pula yang tidak. Hadis yang memiliki asbab al-wurud, dapat terbagi menjadi dua; hadis yang asbab al-wurud-nya disebutkan di dalam redaksi hadis tersebut, dan hadis yang asbab al-wurud-nya tidak disebutkan dalam hadis, atau yang asbab al-wurud-nya disebutkan dalam redaksi hadis lain.

Contoh hadis yang asbab al-wurud-nya disebutkan di dalam redaksi hadis tersebut adalah hadis tentang Jibril yang bertanya tentang islam, iman, dan ihsan. Sedangkan contoh hadis yang asbab al-wurud-nya tidak tampak dalam suatu redaksi hadis misalnya hadis tentang Niat, dan sebagainya. Definisi Asbab al-Wurud Menurut bahasa, asbab al-wurud merupakan susunan idhafah dari kata asbab dan al-wurud.

Asbab adalah bentuk jamak dari kata sabab, yang berarti segala sesuatu yang dapat menghubungan kepada sesuatu yang lain, atau penyebab terjadinya sesuatu. Dengan demikian, secara sederhana kata asbab a- wurud al hadis berarti sebab-sebab munculnya hadis1.

Ilmu Hadits. Raja Gafindo Persada Hlm, 1 menuturkan hadis. Sependapat dengan Abu Syuhbah, M. Asbab al-wurud dapat dikategorikan menjadi tiga; asbab al wurud yang berupa ayat al Quran, asbab al-wurud yang berupa hadis, dan asbab al-wurud yang terkait dengan masyarakat sekitar Nabi. Pertama, hadis yang munculnya dilatarbelakangi oleh ayat Al-Quran contohnya tentang pemaknaan kata dhulm. Ketiga, hadis yang munculnya dipengaruhi oleh masyarakat sekitar Nabi misalnya hadis tentang amal yang utama.

Sehingga, asbab al-wurud khas, dapat didefinisikan; suatu peristiwa yang terjadi menjelang munculnya hadis. Hasbi as Shiddiqie, Sejarah Ilmu Hadits. Bulan Bintang: Jakarta, Pusta As-Sunnah;Jakarta, Imu Hadits. Bandung: CV. Pustaka Setia. Menentukan adanya takhshish hadits yang bersifat umum. Asbab al-wurud dari hadits di atas adalah ketika penduduk Mandinah sedang terjangkit suatu wabah penyakit.

Kebanyakan para sahabat melakukan shalat sunnah sambil duduk. Ketika itu Rasulullah datang menjenguk dan mengetahui bahwa para sahabat suka melakukan shalat sunnah sambil duduk walaupun dalam keadaan sehat. Kemudian Rasulullah bersabda sebagaimana hadits di atas. Mendengarkan sabda Rasulullah para sahabat yang tidak sakit kemudian shalat sunnah dalam berdiri.

Dan dari penjelasan tersebut dapat dipahami pula bahwa boleh melakukan shalat sunnah dalam keadaan duduk namun hanya akan mendapatkan pahala setengah apabila dalam keadaan sehat. Tetapi apabila dalam keadaan sakit dan melakukan shalat dalam keadaan duduk maka akan mendapatkan pahala penuh.

Hal ini merupakan penjelasan dari sebab-sebab ditetapkannya suatu hukum shalat sunnah sambil sambil duduk. Dengan demikian, apabila seseorang memang tidak mampu melakukan shalat sambil berdiri -mungkin karena sakit-, baik shalat fardhu atau shalat sunnat, lalu ia memilih shalat dengan duduk, maka ia tidak termasuk orang yang disebut-sebut dalam hadis tersebut. Membatasi pengertian hadits yang masih mutlaq.

Asbab al-wurud hadits tersebut adalah ketika Rasulullah bersama-sama sahabat, tiba-tiba datanglah sekelompok orang yang kelihatan sangat susah dan kumuh. Ternyata mereka adalah orang-orang miskin, meliahat hal demikian Rasulullah merasa iba kepada mereka. Mendengar hal tersebut seorang sahabat keluar dan membawa sekantong makanan untuk orang-orang miskin tersebut.

Melihat hal tersebut maka Rasulullah bersabda sebagaimana hadits di atas. Melihat asbab al-wurud di atas, kata sunnah yang masih bersifat mutlak belum dijelaskan oleh pengertian tertentu dapat disimpulkan adalah sunnah yang baik, dalam hal ini adalah bersedekah.

Men-tafshil merinci hadits yang masih bersifat globab umum. Hakim Dalam memahami Hadits tersebut, ternyata para sahabat merasa kesulitan, maka mereka bertanya: Ya Rasul! Suatu ketika Nabi SAW bertemu dengan rombongan yang membawa jenazah. Kemudian Nabi SAW bertemu lagi dengan rombongan yang membawa jenazah lain.

Nabi menjawab: ia benar. Melalui mulut merekalah, malaikat akan menyatakan tentang kebaikan dan keburukan seseorang. Al-Hakim dan Al-Baihaqi 4 Dengan demikian, yang dimaksud dengan para malaikat Allah di bumi yang menceritakan tentang kebaikan keburukan seseorang adalah para sahabat atau orang-orang yang mengatakan bahwa jenazah ini baik dan jenzah itu jahat.

Menentukan ada atau tidaknya nasikh-mansukh dalam suatu hadits. Kedua hadits tersebut tampak saling bertentangan, yang pertama menyatakan bahwa orang yang membekam dan dibekam sama-sama batal puasanya.

Sedangkan hadits kedua menyatakan sebaliknya. Karena hadits pertama lebih awal datangnya dari hadits kedua. Setelah itu datang lagi hadis yang menjelaskan bahwa minum khomer itu haram. Asbabul wurud nya karena ada seorang imam yang mabuk saat berjamaah, sehingga menyebabkan semua bacaannya salah dan sholatnya jadi tidak sah.

Menjelaskan maksud suatu hadist yang masih musykil. Asbab al-wurud dari hadits ini adalah ketika dalam peperangan umat Islam dengan kaum kafir, Rasulullah kesulitan membedakan mereka mana yang teman dan mana yang lawan. Kemudian Rasulullah menginstruksikan kepada pasukan umat Islam agar memakai kode tertentu agar berbeda dengan musuh. Dan yang masih menggunakan kode seperti musuh akan kena panah kaum pasukan Islam.

Mengeluarkan sabdanya. Contohnya antara lain firman Allah Swt. Nabi SAW. S al- Luqman: 13 2. Sebab yang berupa Hadis Artinya pada waktu itu terdapat suatu Hadis, namun sebagian sahabat merasa kesulitan memahaminya, maka kemudian muncul Hadis lain yang memberikan penjelasan terhadap Hadis tersebut.

Hakim Dalam memahami Hadis tersebut, ternyata para sahabat merasa kesulitan, maka mereka bertanya: Ya rasul! Dengan demikian, yang dimaksud dengan para malaikat Allah di bumi yang menceritakan tentang kebaikan keburukan seseorang adalah para sahabat atau orang-orang yang mengatakan bahwa jenazah ini baik dan jenzah itu jahat.

Sebab yang berupa perkaitan yang berkaitan dengan para pendengar dikalangan sahabat Sebagai contoh adalah persoalan yang berkaitan dengan sahabat Syuraid Bin Suwaid ats-Tsaqafi. Asbab al-wurud dapat dilihat pada hadits tersebut, karena asbab al- wurud terdapat pada hadits itu sendiri. Jawab Rasululla: Air itu suci, tidak ada sesuatu yang menjadikannya najis. Asbab al-wurud yang dapat dilihat pada hadits lain, karena asbab al- wurud hadits tersebut tidak tercantum pada haditsnya sendiri.

Tetapi perempuan itu menolak untuk dinikahinya, kalau laki-laki pelamar tersebut enggan berhijarh ke Madinah. Maka ia lalu hijrah dan kemudian menikahinya. Asbab al-Wurud dapat dilihat pada aqwal shahabat atau informasi shahabat. Asbab al-wurud pada hadits ini terdapat pada penjelasan Aisyah bahwa ketika jenazah orang Yahudi melewati Rasulullah, mereka menangisi mayyit tersebut sehingga Rasulullah bersabda demikian.

Hal ini karena disebabkan pada tradisi menangisi mayyit orang Yahudi ketika itu dengan ratapan, mencakar atau menampari wajah sendiri atau pun menyobek-nyobek baju, sehingga menggambarkan ketidakrelaan dengan takdir kematian tersebut.

Sedangkan tangisan dengan wajar sebagai bentuk belasungkawa diperbolehkan. Asbab al-wurud melalui ijtihad, hal ini dilakukan apabila ada ditemukan riwayat yang jelas mengenai asbab al-wurud. Ijtihad ini dilakukan dengan cara melihat sejarah sehingga mampu menghubungkan antara ide dalam teks hadits dengan konteks munculnya hadits. Ketiga unsur pokok tersebut sangat penting untuk diketahui dalam memahami hadis Nabi.

Mengingat pentingnya tujuan Nabi memunculkan hadis, Penulis meminjam kaidah yang dikemukakan oleh para ahli ulum al Quran untuk diterapkan dalam memahami hadis. Kaidah ini diterapkan jika sabab wurud tidak relevan diterapkan dalam memahami suatu hadis. Dapat dicontohkan, hadis tentang Jibril yang bertanya tentang islam, iman, dan ihsan. Hadis tersebut secara eksklusif muncul sebagai jawaban atas pertanyaan Jibril.

Namun, petunjuk umumnya lafadh dapat digunakan untuk seluruh manusia. Kaidah ini diterapkan jika pemaknaan terhadap lafadh tidak relevan dengan kondisi kemaslahatan umat manusia. Mengingat kemaslahatan umat terkini, bisa jadi wanita menjadi pemimpin, jika ia dapat bertindak adil. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa umumnya lafadh yang melarang wanita menjadi pemimpin harus dikhususkan hanya bagi wanita yang tidak kompeten dan tidak adil.

Barang siapa yang 9 hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa-apa yang ia inginkan itu. Berita tentang tersebut sampai kepada Nabi, kemudian Nabi duduk di atas mimbar dan bersabda : Wahai Manusia, sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Maka barangsiapa melakukan hijrah ini dengan tujuan mengharap Ridho Allah dan Rasulnya, maka dia akan memperolehnya.

Dan barangsiapa melakukan hijrah ini hanya untuk mencari dunia atau untuk menikahi seorang wanita, maka sesungguhnya dia akan mendapatkan tujuannya, namun tidak akan mendapatkan pahala hijrah. Terj- Hlm 53 10 sekitar 3 derajat, kemudian Nabi berkhutbah di depan umat Islam yang baru datang kerja selama setengah hari, umat Islam banyak yang berkeringat dan menebar bau yang tidak sedap, sehingga bau tersebut tercium oleh Nabi ketika beliau berkhutbah.

Berdasarkan asbab al-wurud di atas, munculnya hadis tersebut disebabkan oleh banyak faktor, antara lain cuaca panas yang menyebabkan berkeringat, pakaian wol yang menyimpan bau, kondisi masjid yang sempit dan lain-lain. Hadis itu berlaku dan wajib dilaksanakan dalam kondisi demikian. Isi hadis tersebut tidak mengikat kepada mereka yang kondisinya berbeda dengan pelaku peristiwa dan dalam suasana yang berbeda pula, hanya saja kalau perintah hadis itu dilaksanakan, maka hukumnya lebih baik bagi yang melakukan.

Pendapat semacam ini semata-mata memahami hadis secara tekstual tanpa mempertimbangkan konteks yang menyertainya. Bersabda : Sholatlah kalian wahai manusia di dalam rumah kalian, sesungguhnya paling baiknya sholat seseorang ialah di rumahnya, kecuali sholat maktubah sholat fardu. Terj- Hlm 45 11 kemudian Nabi sholat beberapa malam di dalamnya, sehingga banyak kaum muslimin yang ikut berkumpul di tempat tersebut dan kehilangan suara Nabi, mereka menyangka Nabi tidur di dalamnya, sehingga mereka berbisik-bisik agar Nabi keluar.

Kemudian Nabi bersabda : kalian selalu melakukan perbuatan yang aku khawatirkan hal tersebut akan menjadi kewajiban bagi kalian. Maka sholatlah kalian semua wahai manusia di rumah kalian, sesungguhnya paling baiknya sholat yang dilakukan seseorang adalah sholat yang dikerjakan di rumahnya, kecuali sholat yang wajib. Hadis tentang Puasa :. Si perempuan berkata : wahai Rasulullah sesungguhnya suamiku Shofwan bin Muatthol memukulku ketika aku sholat, melarangku berpuasa dan dia selalu sholat subuh ketika matahari sudah terbit.

Kemudian Nabi bertanya kepada Shofwan akan hal tersebut, kemudian Shofwan menjawab : Wahai Rasulullah, maksud istriku adalah, ketika istriku sholat aku memarahinya karena dia membaca dua surat, aku melarangnya puasa karena aku masih muda dan aku tidak sabar untuk tidak berhubungan dengannya, dan aku selalu sholat ketika matahari terbit karena aku mempunyai tanggung jawab untuk berjaga-jaga diwaktu malam sehingga hampir aku tidak bisa bangun sampai matahari terbit.

Kemudian Nabi bersabda : satu surat dalam sholat sudah cukup, janganlah berpuasa seseorang perempuan di antara kalian tanpa izin dari suaminya kecuali Ramadhan dan apabila kamu Shofwan telah bangun dari tidurmu segeralah sholat.

TRASTORNO ESQUIZOAFECTIVO PDF

Menu utama

Asbabul Wurud A. Pendahuluan Hadis atau sunnah [1] merupakan salah satu sumber ajaran islam yang menduduki posisi sangat signifikan, baik secara struktural maupun fungsional. Untuk itu, diperlukan seperangkat metodologi dalam memahami Hadis. Ketika kita mencoba memahami suatu Hadis, tidak cukup hanya melihat teks Hadisnya saja, khususnya ketika Hadis itu mempunyai asbabul wurud, melainkan kita harus melihat konteksnya.

KDT PHARMACOLOGY 6TH EDITION PDF

Hadits Tentang Niat | Penjelasan Hadist Innamal A'malu Binniyat

Karena istilah tersebut biasa dipakai dalam diskursus ilmu hadis, maka asbabul wurud dapat diartikan sebagai sebab-sebab atau latar belakang background munculnya suatu hadis. Sesuatu yang menjadi thoriq metode untuk menentukan suatu Hadis yang bersifat umum, atau khusus, mutlak atau muqayyad, dan untuk menentukan ada tidaknya naskh pembatalan dalam suatu Hadis. Dengan demikian, nampaknya kurang tepat jika definisi itu dimaksudkan untuk merumuskan pengertian asbabul wurud menurut Said Agil Husin Munawwar untuk merumuskan pengertian asbabul wurud, perlu mengacu kepada pendapat hasbi ash-shiddiqie. Menuturkan sabdanya dan masa-masa nabi SAW. Ia dapat berfungsi sebagai pisau analisis untuk menentukan apakah Hadis itu bersifat umum atau khusus, mutlaq atau muqayyad, naskh atau mansukh dan lain sebagainya. Dengan demikian, dalam perspektif ini mengetahui asbabul wurud bukanlah tujuan ghayah , melainkan hanya sebagai sarana washilah untuk memperoleh ketepatan makna dalam memahami pesan moral suatu Hadis. Pertama, ada kalanya suatu hadist lahir karena Rasulullah ditanya tentang sesuatu hal oleh para sahabat.

Related Articles